Kamis, 18 Februari 2016

Rendah Hati Palsu





Rendah hati, adalah satu hal yang paling sering di tekankan kepada kita ketika kita masuk kedalam pelayanan di gereja. Ya, kita semua sudah mendengar banyak kothbah dan cerita mengenai bagaimana dosa kesombonganlah yang membuat Lucifer jatuh kedalam dosa, dan betapa Tuhan membenci kesombongan.

Namun dengan berjalannya seiring waktu dan berkembangnya dunia, bentuk "Rendah Hati" yang di selalu di junjung tinggi dalam pelayanan gereja akhirnya be 'evolusi' menjadi satu bentuk lain.

Berdasarkan sejarah peradaban manusia, manusia memang sudah terkenal untuk hal "memilah-milah". Mana yang hitam, mana yang putih, mana yang pria, mana yang wanita, mana yang boleh, mana yang tidak, mana yang benar, mana yang salah, mana yang ras a, mana yang ras b, dan manusia sudah terkenal untuk mempersulit segala sesuatu yang seharusnya tidak sesulit yang di pikirkannya. Kita tau dalam kitab Keluaran, Allah menurunkan 10 Perintah Allah untuk menjadi acuan bagi bangsa Israel, yang akhirnya dengan berjalan seiring waktu, dari hukum tersebut berevolusi menjadi beberapa puluh bahkan ratusan hukum. Hukum-hukum yang akhirnya di jaman Perjanjian Baru, menjadi bahan perdebatan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat. 

Hal ini juga banyak terjadi di kalangan gereja-gereja pada zaman ini yang akhir menyebabkan banyak 'pembelokan' dari hal yang seharusnya tidak perlu.

Ketika Magrate Yap memperkenalkan tarian Tambourine kepada bangsa-bangsa, ia juga menekankan hal mengenai kerendah hatian. Terutama untuk penari, bagaimana penari sangat mudah untuk jatuh kedalam dosa kesombongan. Namun nampaknya hal ini jadi berevolusi lagi di tiap-tiap kalangan gereja menjadi: tidak boleh terlalu 'show off' ketika menari, tidak boleh mengecat rambut, tidak boleh terlalu 'heboh', tidak boleh a, b, c, dan seterusnya.

Hal ini yang akhirnya justru menghambat perkembangan dunia pelayanan tari di gereja. Karena terlalu banyak hukum-hukum yang fungsi utamanya untuk mencegah agar si penarinya tidak sombong, justri hukum itulah yang akhirnya membelegu si penari tersebut dan mengurungnya dalam "zona aman". Lalu di legitimasi dengan pengajaran yang paling terkenal di gereja yaitu: Tuhan melihat hati, bukan fisik, yang mengunci para penari dalam posisi stagnant. Hal ini juga yang akhirnya membatasi penari untuk lebih berkembang dan parahnya, hal ini juga yang akan di wariskan kepada generasi pelayan tari berikutnya.

Hal ini lah yang akhirnya disebut "Rendah Hati Palsu" dan banyak sekali terjadi di pelayanan tari gereja. Jadi, definisi dari rendah hati palsu adalah: kesombongan yang berkedok rohani. Dan ciri khas orang yang memiliki kerendah hatian palsu, adalah dia yang selalu menggunakan alasan rohani untuk menutupi ego nya sendiri.

Mereka menjadi malas untuk berkembang atau ber inovasi, malas untuk belajar lebih, malas untuk berlatih, dengan kedok: Tuhan melihat hati, bukan fisik. Dan mereka tidak mau bahkan berontak untuk menerima hal yang baru, dikarenakan mereka sudah "nyaman" dalam zona mereka, dan mereka justru akan menuding "sombong" kepada mereka yang justru ingin maju atau ingin memberikan yang terbaik. Mereka justru mentertawakan mereka yang menari sungguh-sungguh, "Ih...tegak banget sih badannya pas nari...anggun banget deh kayak peragawati"..."Ih, tekuk badannya ngak usah segitu-gitunya banget kali...." dan tentunya komentar yang umum sekali, "Ih, ngak usah begitu banget kali narinya, kita kan bukan penari profesional!".

Rendah hati yang benar, artinya kita mau dibentuk. Kita mau mendengarkan masukan dari orang lain, kita mau belajar agar pemberian yang kita berikan jadi yang terbaik. Kita mau diajarkan hal yang benar.

Apabila kita seorang pemain musik atau penyanyi, kita mau terus belajar bangaimana kita bisa lebih lagi menguasai alat musik kita dengan berlatih, banyak membaca tentang perkembangan musik, dan belajar tentang banyak lagu-lagu, penciptaan lagu, dan belajar bagaimana membawakan sebuah lagu dengan baik, belajar latar belakang sebuah lagu, belajar menguasai intonasi, dan sebagainya.

Untuk penari, kita harus terus belajar bangaimana tehnik tari yang benar, belajar tentang sejarah perkembangan tari, mau mendengarkan masukan dari orang-orang sekitar, belajar berinovasi, berkembang, dan sebagainya.

Memang benar, Tuhan melihat hati, bukan rupa atau fisik. Itu pernyataan yang tidak salah. Namun kita juga tidak boleh mengesampingkan bahwa Dia adalah RAJA, Dia BERHAK menerima persembahan yang terbaik, baik fisik maupun rohani. Juga kita perlu terus ingat, bahwa tidak semua orang yang datang ke kebaktian itu SPIRITUAL, kebanyakan dari mereka justru VISUAL. Dan bukan berarti kita mengesampingkan hal-hal yang berbau spiritual. Tentu tidak! kerohanian seorang penari tetap perlu di jaga. Namun, keseimbangannya harus tetap berjalan harmonis dengan dengan fisik. Tidak berat sebelah, terutama di pelayanan panggung yang 90% mengandalkan fisik.

Apa yang harus dilakukan apabila kita mengenali rekan sepelayanan kita yang memiliki kerendah hatian yang palsu?

Apabila seseorang memiliki kerendah hatian yang palsu, artinya pelayanan itu bukanlah panggilan hidupnya. Karena pada dasarnya, pelayanan itu sifatnya tanpa syarat dan butuh pengorbanan yang besar. Apabila kita mengenali rekan sepelayanan kita yang memiliki kerendah hatian yang palsu, ada baiknya kita mendekatinya atau mengkonsultasikannya pada pembina setempat. Karena tendensinya adalah, suatu saat orang seperti ini akan mengkontaminasi pelayan lain untuk berfikiran seperti dirinya.

Belajarlah untuk menjadi pelayan yang memiliki rendah hari yang murni.




- Rivera Monarie -