Selasa, 30 April 2013
Alex as a guest dancer in "On Point Ballet School" production of: Anne & Angie...Love will find the way
Shalom teman-teman!!
Salah satu dari penari terbaik Rivera Monarie yaitu Alex akan menjadi salah satu 'guest dancer' dalam acara pementasan yang akan diselenggarkan oleh "On Point Ballet School" dengan judul: Anne & Angie....Love will find the way.
Sebuah cerita yang mengisahkan kisah petualangan dua putri kembar yang terpisah semenjak ketika mereka kecil, namun kasih lah yang akhirnya menyatukan mereka berdua kembali.
Pertunjukan ini akan terselenggara pada:
Hari : Minggu
Tanggal : 12 Mei 2013
Tempat : Gedung Kesenian Jakarta
Jam : 16:00Lt
Pemesanan tiket dapat menghubungi Sdr. Sammy di: 085692580005.
Get your tickets now!!!
GBU,
-Rivera Monarie-
Selasa, 09 April 2013
Ballet Exam (by: Alex)
Pada tanggal 10 Maret 2013 yang lalu, Mainstream School of Arts mengadakan ujian kenaikan tingkat ballet yang biasa diadakan setiap tahunnya. Setelah sekian lama saya sempat 'absen' dari kelas, saya memutuskan untuk mengikuti ujian ini agar saya mendapatkan sertifikat kenaikan tingkat yang dari dulu belum sempat saya kerjakan. Sejak dari akhir tahun 2012, saya mempersiapkan diri untuk menguasai semua syllabus yang akan di uji dan tentunya dengan bantuan guru saya, Miss Murni, saya diperbaiki semua tehnik tari saya yang selama ini sedikit 'berubah' karena saya jarang berlatih.
Ujian ini cukup menjadi tantangan buat saya dan semua murid Mainstream School of Arts karena pengujinya adalah Ms. Ade Siregar, ketua IPPB (Ikatan Pengajar dan Pelatih Ballet) Indonesia dimana tentunya penilaian dari beliau akan menjadi tolak ukur buat kemajuan penguasaan tehnik saya dibidang tari ballet. Pada kesempatan ini saya memberanikan diri untuk mempresentasikan tarian solo, dimana presentasi tarian adalah salah satu dari kriteria penilaian.
Puji Tuhan, beberapa minggu yang lalu hasil dari ujian tersebut dibagikan, saya lulus dengan nilai 'Honours' dan saya cukup puas mengetahui bahwa nilai praktek ballet saya salah satu yang tertinggi. Satu hal lagi yang mengejutkan adalah ketika saya diberitahu bahwa penampilan saya cukup membuat Ms. Ade tertarik untuk mengundang saya ikut serta dalam pertunjukan tarinya di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta) pada bulan Mei mendatang dimana saya akan menari dengan penari-penari yang tingkatnya sudah lebih tinggi dari saya. Hal ini merupakan suatu kehormatan dan kesempatan besar buat saya untuk dapat ikut serta tampil dalam karya Ms. Ade dan ikut menari bersama-sama dengan penari-penari terbaiknya
Selasa, 19 Maret 2013
Rivera goes to Semarang
Shalom teman-teman!
Pada tanggal 12 Maret 2013 yang lalu, Rivera mendapat sebuah kehormatan untuk diundang ke salah satu gereja besar di Semarang yang memiliki sebuah tim tari yang bernama d'Creative Kingdom untuk mengadakan pelatihan dasar tari yang dalam hal ini, tari ballet.
Pelatihan yang dihadiri oleh 15 peserta, diawali dengan sedikit seminar singkat yang dibawakan oleh Alex yang membahas tentang penari yang profesional, sebuah topik bahasan yang juga pernah dibahas di blog Rivera lalu dilanjutkan dengan pengenalan dasar-dasar pemanasan dengan harapan para penari mengerti mengapa perlu dilakukan pemanasan sebelum melakukan aktifitas tari dan dapat melakukannya dengan benar.
Kemudian kami melanjukan dengan perbaikan tehnik dasar tari ballet dengan dibantu oleh Citra, salah satu penari Rivera Monarie. Acara ini berlangsung seharian, dengan di selingi 'break' makan siang dan berakhir sore hari.
Sebuah pengalaman yang luar biasa dimana kami bisa berkunjung ke Semarang dan bertemu dengan teman-teman pelayanan tari di sana dimana kami dapat membagikan ilmu dan pengalaman ke mereka dengan harapan agar apa yang kami persembahkan dapat menjadi sesuatu yang berguna untuk perkembangan pelayanan tari mereka di masa yang akan datang.
Pesan kami untuk teman-teman di d'Creative Kingdom, tetaplah berkarya dalam Kristus Yesus, selalu memberikan yang terbaik untuk kemuliaan nama-Nya, dan jadilah berkat untuk semua orang!
GBU,
-Rivera Monarie-
Kamis, 28 Februari 2013
Performance On-Line "Need Thee Every Hour" (Alex's solo piece)
Shalom teman-teman!
Kali ini kami akan menampilkan sebuah karya tarian solo (solo piece) dari lagu "Need Thee Every Hour" yang dikoreografikan dan ditarikan sendiri oleh Alex.
Awal terciptanya tarian ini terdorong dari lagu "Need Thee Every Hour" itu sendiri. Dimana lagu ini terkesan sederhana, namun lirik dan kata-katanya yang cukup dalam, lebih mencerminkan sebuah doa atau sebuah pengingat buat kita masing-masing, bahwa kita butuh Dia....setiap waktu, setiap jam, kita butuh Dia. Dia-lah yang akan menuntun kita kepada kebenaran, Dia-lah yang akan memberikan jalan keluar. Kita butuh Dia, kita butuh Yesus dalam hidup kita. Setiap saat, setiap jam.
Semoga karya tarian solo ini dapat menjadi berkat buat teman-teman semua!
GBU,
-Rivera Monarie-
Selasa, 19 Februari 2013
Happy birthday Miss Murni!!!
Shalom teman - teman!
Tepat pada tanggal 17 Febuari 2013 yang lalu, Miss Murni, salah satu staff pengajar di Mainstream School of Arts merayakan hari ulang tahunnya.
Kepada Miss Murni, kami dari Rivera Monarie mengucapkan selamat ulang tahun, semoga Tuhan selalu memberkatinya di segala hal!!
GBU,
-Rivera Monarie-
Selasa, 29 Januari 2013
Miss Murni by: Alexander S M
Masih melekat di benak saya
pertama kali saya mendaftarkan diri di Mainstream School of Arts pada tahun
1998. Awalnya saya mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas Tamborin. Saya masih
ingat, pertama kali kelas saya diajarkan oleh Miss Lulu. Kemudian ditangani
oleh Kak Elsye, dan sempat ditangani juga oleh Kak Lusi sampai pada tahap
intermediate. Pada tahap intermediate, kelas saya beberapa kali sempat
ditangani oleh Kak Lily, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala sekolah dan
akhirnya ketika masuk ke tahap advance, kelas saya mulai ditangani oleh Miss
Murni. Pada waktu itu juga saya sempat mengambil kelas ballet basic, yang waktu
itu masih diberi nama “Worship Workshop” yang dimana pada waktu saya memasuki
tahap intermediate, kelas saya juga ditangani oleh Miss Murni.
Saya masih ingat betul
perjumpaan pertama saya dengan beliau. Rambutnya terkuncir satu di belakang
kepala, ia mengenakan seragam Mainstream, yaitu kaos putih yang ada lambang
Mainstream School of Arts di bagian dada sebelah kanannya, dan juga leotard
hitam, make-up lengkap menghiasi wajahnya yang kemudian akhirnya saya tahu
bahwa hal itu merupakan ‘trade mark’ dari Miss Murni.
Awal perjumpaan saya dengan
beliau, ia terkesan anggun dan keras. Membuat saya teringat akan tokoh di komik
atau cerita ballet, di mana hampir selalu digambarkan bahwa guru ballet itu
keras.
Tak kenal maka tak sayang,
ungkapan yang tepat yang bisa saya ungkapkan sekarang apabila saya mengingat
kembali kejadian itu. Setelah berjalan beberapa lama kelas kami di latih oleh
beliau, barulah kami bisa melihat sisi lain darinya. Memang, beliau terkenal
keras, tidak main-main, disiplin tinggi. Namun di balik itu semua, Miss Murni
adalah sosok guru yang bisa menjadi panutan buat para murid-muridnya. Ia cukup detail
dalam mengajarkan setiap tehnik tari kepada kami. Ditambah pengalamannya di
bidang pelayanan tari yang pada saat itu sudah hampir 10 tahun, ia juga banyak
membagikan ke kami murid-muridnya, pengalamannya dan nasihat-nasihatnya yang
dimana nasihat-nasihat tersebut masih menjadi pegangan saya pribadi.
Dari dialah saya juga mendapat
ilmu tak hanya ilmu tentang seni tari, tapi juga ilmu tentang seni itu sendiri.
Dengan pengetahuannya yang didapat ketika ia kuliah di Universitas Trisakti
jurusan design grafis, ia banyak mengajarkan apakah seni itu, kreativitas,
bagaimana kita bisa menilai suatu seni, bagaimana kita melihat suatu
kreativitas, bagaimana kita bisa memahami seni, dan sebagainya.
Salah satu contoh ilmu yang
saya dapatkan darinya adalah pemahaman tentang koreografi dan composisi warna.
Mungkin beberapa dari teman-teman yang pernah membaca artikel di blog saya
mengenai perlombaan tari yang pernah saya dan grup yang saya ikuti pada waktu
itu yang bernama: “Bunga dan Kaisar”, perlomban yang bernama: “Lomba Cipta dan
Koreografi II” pada tahun 2002, dimana kami ikut di satu kategori tarian
“Worship”. Saya pernah bercerita bahwa ada sedikit miskomunikasi dalam hal
pembuatan kostum tersebut. Kami cukup kaget ketika kostum tersebut datang
diantarkan ke kami pada pertama kalinya karena ternyata warna dari kostum
tersebut tidak sesuai dengan design awal. Kami sempat panik, tapi Miss Murni
hanya diam dan berfikir sejenak. Akhirnya setelah beberapa saat, ia berkat: “Jangan
khawatir, kalau saya lihat lagi, warna kostum ini memang sangat keras, tapi
efeknya akan terlihat bagus diatas panggung. Coba kalian pakai”. Akhirnya kita
semua memakai kostun tersebut dan mencoba bloking tarian dengan kostum
tersebut. Kembali ia berkata: “Ya, saya yakin, warna ini justru akan terlihat
bagus di panggung!” dan ternyata memang benar, kostum tersebut cukup terlihat ‘outstanding’
di hari kami berlomba di atas panggung.
Selang beberapa hari setelah
hari pertandingan, kami kembali membahas tentang warna kostum tersebut. Dari
situ saya banyak belajar dengan dia tentang warna, bagaimana efeknya di atas
panggung, bagaimana kita memilih warna dan menyelaraskannya dengan tariannya
yang akan kita bawakan, dan sebagainya.
Awalnya, saya tidak terpikir
sampai sejauh itu. Saya hanya terpatok pada warna apa yang bagus dan model dari
kostum yang seperti apa yang kira-kira selaras dengan warna yang saya design.
Namun dari Miss Murni lah saya mulai terbuka wawasan saya tentang
keterkaitannya satu bentuk seni dengan komposisi di dalamnya. Seperti misalnya
pada seni tari, bagaimana suatu komposisi seni tari bisa begitu selaras baik
dari segi design, warna, lagu yang akan ditarikan dan juga koreografi tarian
itu sendiri.
Berbicara tentang koreografi,
saya juga belajar banyak dari Miss Murni dan beberapa kali saya juga
mendapatkan masukan dari Kak Lily. Miss Murni membantu saya untuk membuka
wawasan saya tentang komposisi koreografi, bagaimana kita bisa menuangkan suatu
koreografi kedalam bentuk suatu tarian dan bagaimana sebuah koreografi tarian
itu bisa sangat luas penjabarannya. Contoh sebuah masukan dari beliau yang
sampai sekarang menjadi ‘panduan’ saya ketika saya mengkoreografikan sebuah
tarian adalah: “Jangan terpaku pada rutinitas, belajar melihat keluar dari
batasannya yang ada. Saya beri contoh, apakah tarian selalu harus ditarikan
oleh penari dengan menghadap ke penonton? Bisa kah kita menari dengan menghadap
ke kanan? Atau ke kiri? Atau bahkan membelakangi penonton? Atau justru sesama
penari saling berhadap-hadapan? Atau justru saling membelakangi satu sama lain?
Haruskah kita menari selalu sejajar dengan teman-teman kita di samping kita? Atau
bisa salah satu maju dan kamu yang mundur? Atau sejajar ke depan?”.
Sebagai seorang pelayan Tuhan
yang bergerak di bidang pelayanan tari, tentu saja selain mengajarkan seni dan
kreativitas dalam dunia tari, Miss Murni juga banyak memberikan saya masukan
tentang pelayangan tari, nilai-nilai seorang penari Kristen, dan bimbingan
dalam hal spriritual. Tak henti-hentinya ia selalu mengingatkan saya akan 3 hal
utama, yaitu kerendahan hati, penguasaan diri, dan penundukan diri pada
otoritas. Saya akui di awal-awal pelayanan saya di dunia tari, saya cukup keras
dan cukup vokal. Namun saya bersyukur Tuhan mempertemukan saya dengan dia. Ia
cukup sabar dalam mengontrol watak saya dan tak henti-hentinya ia memberikan
banyak perumpamaan di Alkitab yang akhirnya bisa membuat saya lebih bisa menge’rem’diri
saya sendiri.
Satu hal yang ia ajarkan yang
masih saya ingat sampai sekarang adalah hal memberikan yang terbaik, dimana ia
juga mengajarkan nilai-nilai penari Kristen. Perumpamaan yang pernah ia ajarkan
yang sampai saat ini masih saya ingat adalah: “Andai kamu saya undang ke rumah
saya untuk saya jamu makan, namun ketika kamu sampai di rumah saya, saya sedang
masih sibuk berkebun dengan tangan saya yang belepotan tanah. Lalu saya ajak
kamu masuk kerumah, dan saya siapkan makanan dengan tangan saya yang masih
belepotan tanah. Kira-kira mau ngak kamu makan makanan yang saya sediakan?
Walaupun kamu tau, makanan itu sudah saya siapkan sedemikian rupa dan dengan
ketulusan?”. Saya menginterpretasikan perumpamaan tersebut dengan kondisi para
penari Kristen yang sempat saya lihat di sekeliling saya. Dimana beberapa
penari Kristen yang kebetulan saya kenal selalu mengatas namakan Tuhan, dan
berbicara tentang hati, namun tidak pernah mau latihan, tampil menari di
kebaktian dengan rambut acak-acakan, baju berantakan, datang terlambat, dan
sebagainya tapi selalu bersembunyi dibalik kedok: “Ah, biar saja rambutku
acak-acakan, kan Tuhan melihat hati saya….biar saja bajuku acak-acakan, kan
Tuhan melihat hati…” dan seribu satu alasan yang akhirnya menjadi pembenaran
dengan mengatas namakan “Tuhan melihat hati”.
A
teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.
~Henry Brooks Adams
GBU,
-Rivera Monarie-
Senin, 28 Januari 2013
Menjadi Penari Terbaik by: Alexander S M
Sejak berkembangnya pelayanan
tari di kalangan gereja, mengakibatkan makin besar tuntutan yang di limpahkan
ke para penari gereja baik dari segi tehnik maupun segi penampilan atau
‘performance’. Makin banyak para penari-penari gereja yang rindu untuk
meningkatkan tehnik dan kreativitas demi memberikan yang terbaik buat gereja
mereka. Hal ini cukup baik, karena memang sebagai anak-anak Tuhan, kita harus
memberikan yang terbaik untuk Nya, karena Dia berhak mendapatkan yang terbaik.
Namun satu hal yang saya perhatikan, ada satu kecenderungan dimana beberapa
penari-penari gereja yang pernah saya kenal, nampaknya berjalan tanpa tujuan
yang tepat. Mereka nampaknya hilang dalam kehausan mereka sendiri akan
peningkatan tehnik dan penampilan tarian mereka.
Saya mengambil satu contoh
kasus yang pernah saya hadapi, dimana ada salah seorang penari yang belajar di
sekolah tari dimana saya belajar yaitu Mainstream School of Arts yang akhirnya
memutuskan belajar juga di sekolah tari ballet sekuler yang cukup terkenal
karena ia merasa kurang mendapatkan kebutuhan yang diinginkan dari Mainstream
School of Arts.
Kebetulan belakangan ini saya
di ajak oleh salah satu teman saya yang kebetulan seorang penari ballet klasik,
untuk ikut sebuah kelas perkenalan atau ‘trial class’ di sebuah sekolah ballet
yang baru saja buka di daerah Jakarta Selatan. Kebetulan salah seorang gurunya
adalah guru dari sekolah ballet sekuler yang dimana salah satu penari yang saya
ceritakan diatas belajar ballet. Singkat cerita, saya mengikuti kelas ballet
tersebut dari awal hingga akhir. Hal-hal yang di ajarkan tidak jauh berbeda
dengan apa yang saya dapatkan di Mainstream School of Arts. Ada satu sesi
dimana ini menjadi pengalaman yang lumayan lucu buat saya. ‘Turn out’ kaki saya diperbaiki oleh gurunya dengan cara memutar kaki
saya sehingga lutut saya menghadap keluar. Hal ini membuat saya teringat
kembali beberapa tahun dulu, di awal-awal ketika saya belajar dasar ballet
dengan Miss Murni. Dengan cara yang sama dulu dia memutar kaki saya untuk
mengajarkan saya posisi kaki ‘turn out’ yang benar. Pada saat itu saya langsung
berpikir: “Andai saja Miss Murni melihat kejadian ini, dia pasti akan tersenyum
simpul sambil berkata: benar kan yang saya ajarkan dulu?!” dan akhirnya membuat
saya tersenyum sendiri. Semua ‘basic ballet’ yang pernah saya pelajari baik
dari segi tehnik dan pengetahuannya kurang lebih sama, hanya saja di
pengembangan silabus nya saja yang sedikit berbeda.
Bahkan di akhir kelas, saya
mendapatkan suatu apresiasi dari sang guru. Ia memuji style ‘classical ballet’
saya dan cukup kagum dengan tehnik tari saya. Sempat guru tersebut bertanya
kepada saya siapa guru saya dan dari sekolah ballet mana saya belajar dan
tentunya saya menyebut Mainstream School of Arts dan memperkenalkan Miss Murni
sebagai guru saya. Komentar dari sang guru tersebut yang cukup membuat saya
terkesan adalah: “Guru kamu tentu seorang pengajar yang baik, karena hasilnya
di kamu cukup baik”.
Saya sempat berfikir, betapa
ironis nya keadaan ini. Semuanya seperti berputar-putar dalam satu lingkaran.
Kembali kepada mantan murid Mainstream School of Arts yang mengambil keputusan
untuk belajar ballet di sekolah sekuler, dimana guru sekolah ballet sekuler
tersebut memuji guru Mainstream School of Arts. Sempat terlintas di benak saya
sebuah pertanyaan: Apakah yang ia dapatkan di sekolah ballet lain yang ia tidak
dapatkan di Mainstream School of Arts? Bagaimana mungkin apa yang ia rasa dia
dapatkan di sekolah ballet lain, namun guru di sekolah ballet yang sama
memberikan apresiasi kepada guru Mainstream School of Arts?
Saya mengambil kesimpulan,
bahwa pada dasarnya semua kembali kepada diri penari atau diri murid
masing-masing. Tehnik tari ballet dimana-mana sama. Posisi badan harus tegak,
pundak turun kebawah, dagu tahan di posisi sejajar, garis leher harus sejajar
dengan haris tulang belakang, posisi kaki ‘turn out’ dengan tehnik lutut
mengadap kearah yang berlawanan dengan cara memutar paha dari bongkol tulang
yang terhubung di tulang panggul. Posisi kaki di 1st, 2nd,
3rd, 4th dan 5th position. Begitu juga dengan
posisi tangan. Walau mungkin tehnik pengajaran tiap masing-masing guru berbeda
dalam cara mengajarkannya ke murid.
Kita kembali lagi ke
pembahasan dimana banyak para penari gereja yang akhirnya sepertinya
‘wara-wiri’ berputar-putar, mencari-cari tempat sekolah tari, dimana ia bisa
meningkatkan kualitas tarinya dengan mengejar belajar di sekolah-sekolah tari
yang terkenal. Hal ini tidak salah, justru hal ini baik. Namum apabila dari
diri kita sendiri tidak memiliki kedisiplinan dan ketaatan untuk diajar oleh
pengajar kita, dimanapun kita belajar, baik disekolah tari yang sangat
terkenalpun di muka bumi ini, kualitas tehnik tari kita tidak akan berkembang
dan kita tidak akan bisa menjadi penari yang terbaik.
Hal lain yang akhirnya
menyebabkan para penari gereja yang pada akhirnya terkesan ‘hilang’ dalam
kehausannya untuk menaikan tehnik tarinya adalah ketidak tekunan si penari itu
sendiri dalam mendalami tarian. Kebanyakan dari mereka terbias oleh nama sebuah
sekolah tari yang terkenal atau sebuah nama pengajar yang terkenal, atau sebuah
grup tari terkenal, dengan harapan apabila mereka belajar di sekolah tersebut,
atau diajar oleh orang tersebut atau masuk dalam grup tersebut, mereka juga
akan menjadi sama ‘hebat’nya. Mereka tidak terpikir, bahwa sekolah tari, atau
pengajar, atau grup yang terkenal tersebut, mereka semua tidak mendapatkannya
dengan instant. Mereka juga menjalaninya dengan ketekunan hingga mencapai posisi
yang mereka dapatkan sekarang.
Memberikan yang terbaik
untuk-Nya, adalah suatu hal yang harus kita lakukan. Namun jangan sampai hal
tersebut membuat kita menjadi tersesat di tengah jalan, yang bisa merubah
motivasi kita menjadi berbeda dari movitasi awal kita. Disamping kita mencari
pengajaran yang terbaik untuk menjadi penari yang lebih baik lagi, hendaknya
kita juga belajar untuk disliplin, taat pada pengajaran yang kita dapatkan dan
tekun dengan apa yang kita pelajari.
GBU,
-Rivera Monarie-
Langganan:
Postingan (Atom)











